Countdown

Jumat, 25 Desember 2009

Terbelahnya Suni dan Syi'i

Terbelahnya Suni-Syiah : Sebuah Realitas Ambiguis Oleh: Warsono

Pengantar
Mencermati diskusi-diskusi di komunitas My Quran (sebuah portal diskusi online),di antara topik yang paling hangat dan menyedot perhatian adalah diskusi antar aliran, khususnya Suni-Syiah. Dan lebih khusus lagi, topik ini menjadi sangat dinamis karena semangatnya teman-teman Salafi untuk berusaha menunjukkan "kesesatan" Syiah, yang baginya sangat jelas. Tapi bagi temen-teman Syiah, justru "kepicikan" temen-teman Salafi itu yang sangat nyata.

Sebenarnya perbedaan Suni-Syiah, adalah sejarah yang sangat panjang. Masing-masing aliran sudah melalui konsolidasi baik secara teologi, fiqh, keilmuan, ideologi, maupun bangunan sosial. Masing2 sudah memiliki ribuan "Ayatullah" atau "Syaikhul Islam" yang sangat otiritatif, dengan buku2 ratusan ribu jilid.

Kalau kita teliti lebih dalam, agama atau keyakinan apa pun, termasuk Islam, tidak lepas dari ambiguitas, multitafsir. Sehingga dalam sejarah semua agama besar, selalu muncul aliran2 yang masing-masing merasa benar. Kristen, misalnya adalah agama yang alirannya sudah sangat banyak. Begitu juga Islam, dalam sejarah awal pun telah terbelah menjadi 2 kekuatan besar Suni dan Syiah. Masing-masing mengkonsolidasikan diri termasuk konsolidasi kekuatan.

Perbedaan makin tajam, karena ada perasaan yang "umum" yang menganggap kelompok lain itu sebagai musuh dalam selimut dan bahwa musuh dalam selimut lebih berbahaya daripada musuh dari luar. Sehingga tidak aneh perbedaan dalam satu agama lebih "ramai" daripada antar "agama". Dalam sejarah kristiani, perbedaan antar kaum Katholik dan Protestan menimbulkan peperangan besar di Eropa. Di Skotlandia, puing-puing peperangan antar kedua kelompok menjadi salah satu tujuan wisata, yang memberi pelajaran pentingnya toleransi agama.

Sumber Ambiguitas Agama
Kalau kita telisik lebih jauh, sumber dari ambiguitas agama ada 3. Pertama, ambiguitas tafsir text. Kedua, ambiguitas sejarah. Ketiga, ambigiutas politik.

Ambiguitas tafsir text sulit dihindari karena Kitab Suci Al-Quran maupun hadis Nabi, seperti juga semua kitab suci agama lain, banyak menggunakan bahasa2 halus dan tinggi, yang memerlukan tafsir untuk menjelaskan, menjabarkan atau memberi arti. Nah, dari sinilah timbul berbagai tafsir dan pendapat. Sebagai contoh, ayat: "tanyalah kepada ahli dzikr, jika kamu tidak tahu". Pertanyaannya: Siapakah ahli dzikir itu? Kaum Syiah memberi arti Ahlul Bait, sedang ahlu sunah memberi arti umum yaitu para ulama, adapun kaum sufi memberi arti lain. Ayat ini memberi implikasi perbedaan siapa yang dirujuk (pola anutan).

Contoh lain, ayat yang penting bagi kalangan Syiah, " Sesungguhnya Aku hendak mensucikan kamu, hai Ahlul Bait, sesuci-sucinya". Kaum Syiah menjadikan ayat ini sebagai basis kema'shumam Ahlul bait, sedang kaum Ahlu Sunah tidak terlalu menjadikannya pokok bahasan. Perbedaan kedua dalam memaknai ayat ini adalah dalam memaknai siapakah Ahlul Bait? Yang menarik, Hadis Muslim (yang oleh kaum Suni dianggap kedua paling valid) tentang Tsaqalain (dua pusaka/ pegangan), " Aku tinggalkan dua pusaka (tsaqalain), yang pertama Al-Quran .... yang kedua Ahlul bait Nabi", tidak populer di kalangan Ahlu Sunah. Mereka lebih suka merujuk pada hadis lain, " Al-Quran dan Sunah-ku".

Ambiguitas tidak hanya karena perbedaan memaknai ayat (text), tetapi juga text mana yang dijadikan prioritas. Contoh sederhana tentang dalil klaim keselamatan (firqah najiah). Bagi kaum Suni sangat populer hadis tentang 73 golongan, dengan satu yang selamat, yaitu Ahlu Sunah wal jamaah. Sedang kaum Syiah populer dengan hadis, "Ahlul baitku laksana bahtera Nuh, siapa yang masuk ke dalamnya akan selamat".

Contoh yang lain tentu sangat banyak, tetapi intinya adalah perbedaan memaknai dan memilih text/nash menjadi penyebab utama timbulnya perbedaan mazhab. Ini tidak berlaku pada umat Islam, tetapi juga kaum agama lain.

Yang kedua ambiguitas sejarah. Dalam perjalanan umat manusia, sejarah bukan hanya berarti apa yang terjadi, tetapi juga menjadi basis keberadaan (raison d'etre) dari suatu kelompok. Tidak heran betapa Orde Baru, mengambil angle-angle sejarah tertentu dengan tafsirnya untuk mengukuhkan kekuasaannya. Begitu juga dalam sejarah aliran Islam. Banyak kejadian sejarah, yang mungkin kejadiannya diakui semua tetapi dimaknai secara berbeda. Misalnya: Kasus pertemuan di Bani Saqifah untuk mengangkat Abu Bakar, Pertentangan Abu bakar dengan Fatimah, tertundanya baiat Ali, Perang Unta, Perang Sifin, dan lain-lain. Kejadiannya itu sendiri mungkin diakui oleh kedua kelompok, tetapi mengapa, apa latar belakangnya, apa motivasinya, dimaknai secara sangat berbeda bagi kedua kelompok.

Bagi kaum Syiah dengan tafsirnya sendiri kejadian-kejadian itu menjadi patokan kebenaran ajaran Syiah. Namun, dengan tafsir yang berbeda kejadian itu menjadi dasar kebenaran bagi kaum Ahlu Sunah. Dan sebanarnya itu hal yang lumrah saja, jangankan kejadian yang sudah terjadi ratusan tahun, wong apa yang menjadi penyebab G-30-S yang baru puluhan tahun saja, menjadi kontroversi hingga kini...
yang ketiga adalah faktor politik. Faktor ini berpengaruh besar pada perkembangan agama. Faktor politik berpengaruh pada dua hal, pertama perkembangan agama. Ini tidak hanya terjadi pada kasus Islam. Agama Budha menjadi meluas setelah mendapat dukungan politik dari salah satu raja di India, begitu juga Kristen. Nah, dalam sejarah Islam kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abasiyah juga berpengaruh besar terhadap perkembangan Islam.

Namun kekuatan politik tidak hanya berpengaruh terhadap meluasnya Islam, tetapi juga memberi warna terhadap corak aliran Islam. Pada awalnya, pada masa Muawiyah dan Yazid misalnya penekanan terhadap kelompok Ali sangat nyata hingga ke mimbar-mimbar agama dalam bentuk pelaknatan terhadap Ali sebagai musuh politik Muawiyah. Namun, upaya itu dikoreksi oleh Umar bin Abdul Aziz, salah satu raja dinasti Umayah yang tekenal bijak, yang menandai sedikit rekonsiliasi dengan kekuatan Ali. Pada masa Umar bin Abdul Azis inilah basis keyakinan Ahlu Sunah terkonsolidasi dengan pengakuan Ali sebagai satu dari empat khulafaur-Rasydin. Kekuasaan Dinasti Umayah diakui atau tidak memberi jalan besar bagi dominannya kekuatan Ahlu Sunah. Sedang pada sebagian masa kekuasaan Abasiyah, berpengaruh bagi lahirnya kekuatan rasionalitas Islam (Mu'tazilah) meski hanya sebentar.

Contoh agak akhir pengaruh kekuatan politik terhadap perkembangan aliran Islam adalah kemenangan Ibnu Saudi di semenanjung Arab yang menjadi basis kekuatan aliran Salaf vis-a-vis Suni tradisional yang didukung Khilafah Usmaniah yang hampir kolaps. Karena Dinasti Ibnu Saud adalah pendukung utama pandangan Muhamad bin Abdul Wahab. Semangatnya aplikasi ajaran Wahabi ini hampir2 saja raja Saudi hendak meratakan kuburan Nabi SAW, kalau tidak diprotes ulama tradisional seluruh dunia, termasuk NU dari Indonesia. Posisi strategis Arab Saudi, juga banyak berpengaruh terhadap meluasnya paham Salaf di dunia.

Di sisi lain, revolusi Islam Iran pimpinan Ayatullah Khumaini merupakan titik picu terkenalnya paham Syiah, sekaligus "ketakutan" dunia Suni terhadap meluasnya paham Syiah. Di Indonesia, meski secara jumlah paham Syiah tidak terlalu banyak, namun pengaruhnya di sisi intelektual sangat besar.

Dengan demikian, diakui atau tidak ajaran agama yang kita anut sekarang ini adalah adalah sudah melalui "bungkus" perkembangan yang sangat lama, yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Dan itu alamiah, tidak hanya dialami oleh Islam, tetapi seluruh agama besar.Bagaimana nasib hubungan antar aliran dalam Islam

Menyatukan paham umat Islam, dalam arti alirannya, adalah gagasan yang tidak masuk akal. Tetapi gagasan untuk menyatukan kekuatan antara aliran-aliran dalam Islam adalah hal yang masih mungkin dicapai, walau tidak mudah. Untuk kasus Indonesia, NU-Muhamadiyah sebagai faksi terbesar umat Islam di Indonesia adalah contoh yang baik hubungan antar aliran, meski masih dalam satu payung Ahlu Sunah.

Keduanya bisa berhubungan harmonis, tanpa harus melebur, karena memang keduanya memiliki paham yang berbeda. Banyak bidang dalam amal ibadah yang bisa dilakukan bersama atau bersinergi oleh kedua eksponen utama umat Islam di Indonesia. Sikap menghargai, tidak menganggu, menjaga silaturahmi, itu saja sudah kekuatan yang luar biasa bagi umat Islam di Indonesia.

Nah, dalam sekala global. Diantara Kaum Suni (kira2 80% umat Islam) dan Syiah (mungkin 20 %) kalau bisa bersikap saling menghargai, dan tidak saling curiga saja. Itu sudah kekuatan yang luar biasa. Saya yakin Israel dan Amerika tidaklah seberani sekarang merendahkan umat Islam.

Teologi Silaturahmi
Untuk keperluan ini, saya ingin ikut mendukung, katakanlah "Teologi Silaturahmi". Ini adalah landasan bersikap terhadap sesama muslim apapun alirannya, apapun aqidahnya. Sebagaimana pemahaman saya atas ayat Al-Quran:

"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. 49:10)

Saya memimpikan bahwa semua umat Islam bisa menerima dan saling bersilaturahmi dengan baik, apa pun aliran dan madzhabnya, tanpa banyak syarat-syarat. Sepanjang dia mengaku muslim, menjadikan Quran sebagai pedamannya, menjujung tinggi Rasulullah SAW, dia adalah Saudara saya. Meski pahamnya kelihatan aneh di telinga saya, cara beribadahnya tampak lucu dari kaca mata saya, dia adalah saudara saya. Yang punya hak untuk saya dengar, saya bantu, saya hargai dan saya perlakukan selayaknya saudara. Tidak perlu saya banyak curiga, mencari-cari kesalahan sebagaimana lanjutan ayat yang indah ini:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 49:11)
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. "(QS. 49:12)

Untuk itu dada kita harus lebar, mempunyai tingkat toleransi atau "range of tolerance" yang lebar. Manusia itu sangat beragam, memiliki latar belakang, pengalaman, kecenderungan yang berbeda-beda. Namun sepanjang mereka muslim, mereka adalah saudara kita.
Ide ini sepenuhnya mengadopsi ide Alm. Dr. Kuntowijoyo (Beliau adalah salah satu "guru" saya, dan saya mohon maaf kepada Beliau kalau saya salah mengartikan dan menafsirkannya). Terinspirasi dari teori Sosiologi A. Comte kacamata terhadap agama ada 3 tingkatan, pertama mithologi, kedua ideologi, dan ketiga ilmu/sains.

Kacamata mithologi memandang agama penuh dengan mithos-mithos yang tak tersentuh dan harus diterima apa adanya. Dalam kacamata ideologi, agama berisi ide-ide besar untuk pembangunan masyarakat. Hanya biasanya kacamata ideologi ini memandang dunia secara hitam putih, kawan-lawan, benar-salah, sehingga sulit menerima agama dari versi paham lain. Dalam kerangka ilmu, maka ide-ide besar itu dirumuskan dalam tataran keilmuan, yang tersistematis, logis dan bisa terus dikembangkan atau dikoreksi.

Dalam kerangka keilmuan ini, perbedaan pendapat justru menjadi berkah karena keilmuan menjadi berkembang dengan pertukaran ide dan pengayaankhasanah keilmuan. Makin tinggi tingkat pertukaran ide, maka akan semakin kokoh keilmuwan. Di samping itu, ini yang terpenting, memandang agama secara keilmuan akan memunculkan toleransi. Perbedaan pendapat akan dibicarakan secara dingin, dan logis. Tidak menjadikan perbedaan paham betapa pun pertentangannya sebagai musuh, sesat, dan lain lain.

Jika teologi silaturahmi adalah dalam kerangka bergaul antar sesama umat Islam, saintifikasi Islam adalah dalam interaksi pikiran, ide sesama umat Islam dari mazhab apa pun. Dalam kerangka saintifikasi Islam, yang dilihat adalah argumentasi, gagasan, bukan kecurigaan madzhab apa dia, lawan atau kawan. Jika diskursus keislaman Suni-Syiah dilaksanakan dilaksanakan dalam kerangka keilmuan, maka kedua pihak bisa saling belajar dari kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga masing-masing bisa mengambil manfaat. Orang-orang Suni misalnya, dalam dataran keilmuan tidak perlu takut-takut mempelajari karya-karya Mutahhari yang sangat bagus. Begitu juga orang-orang Syiah tidak perlu takut-takut mempelajari Aid Al-Qarni misalnya.Demokratisasi Pemahaman Islam

Meski judulnya mentereng maksudnya sederhana yaitu semua kelompok pemahaman Islam mendapat tempat untuk berbicara, mengemukakan pendapatnya, tanpa intimidasi, kecaman, apalagi penyerangan fisik. Ini sebenarnya ajaran Islam yang indah untuk "bermujadalah dengan ahsan/baik".

Salah satu ekperimen keilmuan berbasis demokrasi di dunia maya, semua pihak mendapat tempat untuk berbicara, pada saat yang sama menghargai pendapat orang lain, adalah wikipedia, sebuah free encyclopedia. Pada entri sejarah Islam (Nabi SAW dan Sahabat), ditampilkan versi keduanya... Menarik juga. Silakan baca:

http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad, http://en.wikipedia.org/wiki/Succession_to_Muhammad

Sebagai lawan dari demokratisasi Islam, ya totaliterianism Islam, yaitu memaksakan pemahaman saya kepada orang lain dalam bentuk apa pun, termasuk makian, cacian, kecaman, bahkan kalau perlu teror, dan intimidasi. Saya kira pilihan terakhir ini bukan ajaran Islam yang baik.

"... janganlah kamu menjadi orang yang musyrik, yaitu orang yang menjadikan agama berpecah-belah, dan masing-masing kelompok berbangga-bangga dengan kelompoknya" (QS 30:31-32)

Sikap demokratis inilah yang memungkinkan, antar kelompok bisa duduk berdampingan, saling menghargai, bekerja sama sekaligus "berlomba-lomba dalam kebajikan dan takwa". Kaum Syiah betapa pun tidak kita setujui, telah dan sedang berkarya dan berjuang meninggikan kalimah Allah. Sudah selayaknya yang Suni, ikut mendukungnya sebagai bagian dari saudara yang berbeda paham. Begitu juga sebaliknya...

Masa depan umat Islam salah satunya ditentukan oleh sikap umat Islam itu sendiri. Maukah kita bersatu, menyatukan langkah, atau membiarkan dan meneruskan sikap berpecah belah.
waallahua'lam bishowaab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar